Bagaimana Cara Membuat Anak Mau Lebih Banyak Belajar Daripada Main di Rumah?


Seorang anak mempunyai kehidupan yang cukup komplit. Kehidupan di sekolah, rumah & luar rumah. Kesempatan untuk bermain, belajar, sosialisasi, dan sebagainya. Semakin seimbang kehidupan seorang anak, semakin terealisasi kehidupan yang diinginkan anak untuk dialaminya. Dan ketika seorang anak mempunyai nilai akademik yang cukup bagus di sekolah, adalah idaman semua orang tua.

Akan tetapi ketika anak sampai di rumah, yang inginnya maen terus, dalam beberapa hal tentunya wajar jika menimbulkan kekuatiran pada diri orang tua. Termasuk tentang masa depan anak, karena semua orang tua menginginkan anak-nya tumbuh dewasa menjadi orang sukses di kemudian hari.

Yang jadi pertanyaan adalah, berapa jam sehari-kah jumlah waktu yang wajar untuk seorang anak bermain dalam sehari? Berapa jam untuk belajar? Berapa jam untuk melakukan aktifitas yang lainnya? Masing-masing anak, orang tua & keluarga mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda mengenai hal ini.

Kalau ada satu hal yang perlu dijaga pada diri anak ketika berbicara tentang pelajaran & belajar yaitu bahwa anak harus merasa senang & rela untuk belajar. Ketika terlihat ada keterpaksaan di dalam diri anak setiap kali belajar, akan beresiko menimbulkan perasaan di dalam hati anak terhadap pelajaran. Dan semakin besar perasaan stress di dalam hati anak jika berkaitan dengan belajar, akan semakin sulit buat anak untuk bisa belajar dengan senang & ikhlas. Sehingga bisa dilakukan berbagai hal untuk membuat anak merasa lebih suka belajar. Mungkin di rubah jam belajarnya, mungkin dengan buku panduan extra yang tidak di haruskan, tapi menarik buat anak misalnya dengan buku-buku pelajaran yang dipenuhi dengan gambar-gambar, dengan buku-buku cerita yang mengandung pelajaran, belajar dengan cara belajar, bergantian belajar dengan Ayah atau Ibu, dan lainnya.

Sedangkan pendapat bahwa anak maunya maen terus, apakah dibiarkan saja atau dikurangi jam main-nya, tergantung jumlah waktu bermain. Apakah 2 jam sehari? 3 jam? Atau 6 jam sehari? Kemudian apakah dengan bermain itu, anak jadi tidak punya waktu untuk melakukan aktifitas lainnya?

Dengan asumsi anak tidak mempunyai masalah dengan orang tua (selalu jujur dengan orang tua ketika berkomunikasi), merasa dikasihi secara adil dengan adik atau kakak, tidak ada masalah di sekolah, sehingga SATU-SATUNYA masalah hanya kelebihan main di rumah, yang bisa dilakukan adalah dengan cara membuat kesepakatan BERSAMA anak tentang jumlah waktu main & belajar di rumah. Ketika anak tidak tahu berapa lama dia diijinkan untuk bermain, kecenderungannya adalah dia akan berusaha untuk bisa bermain selama mungkin. Ketika saat belajar, dia tidak tahu apakah bisa bermain setelah itu atau tidak, karena belum ada kesepakatan, anak bisa membayangkan bermain saat dia sedang belajar. Tapi ketika ada kesepakatan kapan belajar & kapan bermain, anak bisa tahu secara pasti bahwa dia akan punya kesempatan untuk bermain & belajar. Sehingga akan lebih mudah untuk anak bisa belajar.

Yang perlu diperhatikan juga adalah jenis permainan yang dilakukan oleh anak. Lebih baik jika permainan melibatkan anak-anak yang lain, sehingga kemampuan social anak bisa lebih terlatih. Seandainya permainan-nya adalah permainan elektronik yang dilakukan di depan televise atau computer, bisa dipastikan bahwa permainan cocok untuk anak seusia-nya. Sehingga perkembangan mental & kejiwaan anak bisa berkembang secara maksimal demi masa depan-nya.

Semoga Membantu.

Syahriar Rizza
Terapis Hati

Perihal Syahriar Rizza
Terapis Hati

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: