2 Macam Pernikahan yang Bahagia

2 Macam Pernikahan yang Bahagia

1). Suami & istri yang merasa saling mencintai karena pribadi yang dinikahi nya

– Merasa mencintai beda dengan merasa dicintai. Merasa mencintai artinya merasa ingin memberi materi/non-materi, memperhatikan, menyayangi, menghargai, dll. Merasa dicintai artinya merasa ingin di berikan materi/non-materi, diperhatikan, di sayangi, di hargai, dll

– Ada suami/istri merasa mencintai istri/suami nya, padahal yang sebenarnya dirasakannya adalah merasa dicintai

– Ada juga suami/ istri yang merasa ingin bisa mencintai suami/istri nya, padahal yang sebenarnya dirasakannya adalah ingin merasa dicintai

– Ketika suami & istri saling mencintai, maka keinginan untuk memberi lebih besar daripada keinginan untuk di beri, dan tuntutan terhadap kesempurnaan sikap dan perilaku suami/istri nya pun berkurang karena merasa lebih penting dan menenangkan untuk memberi daripada diberi, dan ketika suami – istri2 saling mencintai, maka tuntutan untuk merasa di mengerti dan di pahami lebih sedikit dibandingkan keonginan untuk bisa mengerti dan memahami istri atau suami nya

– Sehingga jika ingin hidup bahagia dalam pernikahan melalui cara saling mencintai, bisa terlebih dulu jujur dengan diri sendiri, mana yang terasa lebih besar di dalam hati, keinginan untuk mencintai, ataukah keinginan untuk di cintai.

– Semakin tulus perasaan saling mencintai, maka pernikahan yang bahagia lebih mudah di raih, karena yang terjadi bukannya saling menuntut untuk dibahagiakan, tapi malah lebih banyak keinginan untuk membahagiakan. Sehingga yang ada bukan hanya komitmen untuk mempertahankan pernikahan, tapi yang ada adalah komitmen untuk saling membahagiakan. Karena dengan komitmen untuk saling membahagiakan, pernikahan otomatis tetap berjalan. Sedangkan ketika komitmen nya adakah mempertahankan pernikahan, kebahagiaan belum tentu bisa di raih.

– Ketika ingin bahagia melalui cara saling mencintai, ada resiko kecewa di depan mata, karena tidak ada manusia yang sepanjang hidupnya tulus 100% hanya ingin mencintai suami/istri nya, tapi semua manusia juga ada keinginan untuk dicintai oleh suami/istri nya.

 

2). Suami & istri2 yang merasa saling mencintai karena ALLAH

– Merasa mencintai karena ALLAH beda dengan mencintai diri suami/istri. Karena jika mencintai karena ALLAH, reaksi atau respons apapun yang timbul dari usaha intuk mencintai suami/istri, tidak terlalu berpengaruh ke dalam hati, karena hanya Ridho ALLAH yang dicari. Sehingga sekalipun reaksi suami/istri sepertinya kurang menghargai usaha dari istri/suami nya untuk membahagiakan, hati tidak terlalu merasa kecewa, karena yang lebih di cari adalah Ridho ALLAH, bukan kebahagiaan suami/istri.

– Ketika mencintai suami/istri karena ALLAH, setiap kesempatan untuk membahagiakan pasangan, dirasakan sebagai kesempatan untuk mencari ridho ALLAH, bukan sebagai kesempatan untuk merasakan kebahagiaan dalam pernikahan. Kebahagiaan dalam pernikahan menjadi sebuah bonus yang bisa di syukuri, bukan sebagai tujuan utama pernikahan, karena yang penting adalah Ridho ALLAH.

– Berusaha memahami perasaan dari istri/suami adalah bagian dari mencintai karena ALLAH, karena ALLAH memerintahkan istri untuk taat ke suami (berarti memperhatikan perasaan suami terkait ketataan yang telah/belum istri lakukan) & ALLAH memerintahkan suami untuk menggauli istri secara baik (berarti memperhatikan perasaan istri terkait apa yang terjadi di dalam pernikahan).

– Ada suami/istri yang menggunakan dalil Al Qur’an maupun Hadits untuk tidak mau repot & menghindari kewajibannya dalam hal memperhatikan perasaan suami/istri nya, padahal memahami perasaan suami/istri adalah bagian dari usaha untuk mencintai karena ALLAH.

– Sehingga jika ingin hidup bahagia dalam pernikahan melalui cara saling mencintai karena ALLAH, bisa terlebih dulu jujur dengan diri sendiri, apakah memang sudah benar2 merasa mencintai karena ALLAH, ataukah masih ada pengharapan bahwa suami/istri mya membalas perhatiannya dam berusaha membahagiakannya juga

– Semakin tulus perasaan saling mencintai karena. ALLAH, maka pernikahan yang bahagia lebih mudah di raih, karena yang terjadi bukannya saling menuntut untuk dibahagiakan, juga bukan berharap bahwa dia bisa bisa membahagiakan suami/istri nya, tapi malah lebih banyak keinginan untuk membahagiakan dalam rangka mencari Ridho ALLAH, bukan sekedar hanya ingin membahagiakan suami/istri. Sehingga yang ada bukan hanya komitmen untuk mempertahankan pernikahan, juga bukan hanya berusaha untuk tetap bisa saling mencintai, tapi yang ada adalah komitmen untuk saling membahagiakan dalam rangkaemcari Ridho ALLAH. Karena dengan komitmen untuk saling membahagiakan dalam rangkaemcari Ridho ALLAH, kebahagiaan In Syaa ALLAH lebih mudah di raih karena yang diharapkan hanya lah Ridho ALLAH, sedangkan ucapan, sikap dan perilaku yang membahagiakan dari suami/istri hanyalah dianggap sebagai bonus dari usaha nya yang telah berusaha membahagiakan suami/istri karena ALLAH.

 

Tentunya semua orang ingin mempunyai pernikahan yang saling mencintai karena pribadi suami/istri nya *dan juga* saling mencintai karena ALLAH. Hanya saja memang tidak banyak orang yang bisa mensyukuri kondisi pernikahan seperti ini,

Sementara ada suami – istri yang merasa saling mencintai, mereka juga merasa takut bagaimana nantinya kalau perasaam itu berubah. apakah tetap bisa merasakan kebahagiaan seperti di awal pernikahan dan bagaimana cara memelihara perasaan cinta tersebut

Dan ada juga suami – istri yang merasa saling mencintai karena ALLAH, tapi dengan tarikan godaan duniawi yang kuat, tidak semudah itu konsisten mencintai karena ALLAH.

Sementara perasaan mencintai karena pribadi ataupun mencintai karena ALLAH terasanya di dalam hati, ukurannya bukan apakah ada rasa cinta itu atau tidak. Ukurannya adalah seberapa besar % perasaan itu terasa di dalam hati. Dan perlu kesediaan untuk merasakannya di dalam hati dan kejujuran terhadap diri sendiri, apa yang sebenarnya di rasakan, pernikahan seperti apa yang diinginkan, dan apa yang bisa dan ingin dilakukan untuk meraihnya.

Syahriar Rizza
Rizza@TerapiHati.Com

 

<span>%d</span> blogger menyukai ini: