Bagaimana Cara untuk Lebih Paham dan Meningkatkan Ingatan

Seorang siswa mempunyai pertanyaan sebagai berikut:

Daya pemahaman saya dalam pelajaran termasuk yang mudah untuk memahami pelajaran yang diterangkan oleh guru tetapi saya tidak dapat menjelaskan ulang tentang materi yang telah di terangkan oleh guru kepada teman-teman yang meminta saya untuk mengajarinya kembali. Malah terkadang setiap saya mencoba untuk berbagi ilmu kepada teman-teman, malah saya bingung dan menjadi tidak paham dengan materi yang telah diterangkan oleh guru, padahal sebelumnya saya paham.

Waktu itu saya pernah mengajari temen saya, temen tersebut paham dengan apa yang saya ajarkan kepadanya tetapi saat saya belajar ulang di rumah saya menjadi kurang paham lagi terhadap materi tersebut. Terkadang sifat tersebut membuat saya bingung dengan diri saya.

Menurut saran bapak apa yang harus saya lakukan agar sifat saya seperti ini dapat hilang sehingga saya dapat berbagi ilmu tanpa harus merasa khawatir akan kehilangan pemahan terhadap pelajaran. Terimakasih Pak

Jawaban:

Definisi pemahaman tentang suatu materi tertentu berbeda-beda untuk setiap orang. Secara umum ada beberapa tingkatan dalam memahami sesuatu:

1). Paham untuk diri sendiri

Ini terjadi ketika misalnya guru mengajarkan pelajaran tertentu kepada kita dan kita merasa mengerti, kemudian bisa mengerjakan soal yang diberikan kepada kita.

2). Paham untuk bisa mengajarkan ke orang lain
Ketika sudah bisa paham untuk diri sendiri, tingkatan selanjutnya adalah ketika paham untuk bisa mengajarkan-nya kepada orang lain. Ini membutuhkan tingkat pemahaman tentang diri orang yang kita ajarkan, sehingga cara kita bicara & mengajarkan kepada orang tersebut sesuai dengan cara dia berkomunikasi. Ketika diri kita kurang memahami orang yang kita ajarkan, bisa terjadi salah paham ketika berkomunikasi sehingga membuatnya tidak mengerti maksud dari yang kita sampaikan.

3). Paham untuk bisa mengajarkan ke orang lain sehingga dia bisa mengajarkan ke orang lain lagi

Untuk tingkat pemahaman seperti ini, membutuhkan penguasaan materi yang cukup dalam dan kemampuan untuk membantu dan memotivasi orang yang kita ajarkan supaya dia bisa membantu orang lain untuk bisa mengerti juga dengan materi yang kita sampaikan.

Apa pun level pemahaman kita tentang sesuatu, semakin banyak ilmu yang kita bagikan, semakin menempel pula di dalam kepala kita materi yang kita sampaikan tersebut. Karena disadari atau tidak, ada persyaratan di dalam diri kita, sebelum mampu untuk berbagi ilmu kepada orang lain. Dan ketika kita mengajarkannya, mulut, perasaan, otak, gerakan tubuh, expresi wajah dan bahasa tubuh semuanya terpadu menjadi satu sehingga ilmu yang ingin kita bagikan tersalurkan kepada orang lain. Semakin banyak indera kita yang digunakan dalam mempelajari dan mengajarkan sesuatu, akan semakin menempel pula ilmu atau materi-nya.

Ketika adik berusaha mengajarkan ke orang lain tentang suatu materi tertentu yang merasa telah dipahami sebelumnya, dan ternyata orang lain belum bisa memahami yang disampaikan, berarti tingkatan 2 dari pemahaman yang telah disampaikan diatas belum tercapai.

Yang jadi pertanyaan, apakah pemahaman tentang materi tersebut untuk diri sendiri sudah tercapai atau belum?

Kondisi yang adik hadapi, merasa sudah memahami tapi ketika mengajarkan ke orang lain, pemahaman jadi berkurang atau hilang, ada beberapa kemungkinan penyebab (ada juga yang lainnya, tapi 3 hal di bawah ini yang paling umum):

I). Sebenarnya belum paham

MERASA SUDAH MEMAHAMI dan SUDAH MEMAHAMI adalah 2 hal yang berbeda. Merasa sudah memahami bersifat pendapat atau yang lebih spesifik merupakan sebuah perasaan. Kata kuncinya MERASA. Sedangkan SUDAH MEMAHAMI adalah sebuah fakta. Apakah pemahaman ini masih di tingkat perasaan ataukah sudah di tingkat logika, bisa dibuktikan dengan mengerjakan soal2 yang berhubungan dengan materi yang kita merasa atau memang sudah pahami. Kalau bisa dengan mudah mengerjakan, berarti sudah paham. Kalau masih kesulitan, berarti baru MERASA paham.

SOLUSI: Belajar lebih banyak lagi, dari orang lain atau belajar sendiri melalui buku, pelatihan, multimedia, internet, dan lain sebagainya.

II). Adik adalah orang yang rendah hati

Salah satu tanda orang sombong adalah merasa sudah paham tentang sesuatu, padahal belum tentu, tapi malah menunjukkan ke orang lain bahwa dia paham. Kenyataan bahwa adik menunjukkan jika merasa pemahaman berkurang, menunjukkan kerendahan hati. Orang yang rendah hati selalu merasa, semakin banyak ilmu yang dikuasai, semakin merasa harus belajar lebih banyak lagi. Semakin banyak yang diketahui, semakin merasa belum tahu banyak hal.

Itulah sebabnya mengapa mereka yang pengetahuannya nanggung, menunjukkan sikap bahwa mereka sudah tahu semuanya. Tanpa di sadari ini untuk menutupi perasaan kurang percaya diri atau keminderan-nya bahwa dia sebenarnya belum tahu banyak.

Tapi ketika kita datang kepada orang yang dianggap tahu banyak hal, seringkali mereka merasa tidak tahu dengan yang kita tanyakan. Dan mereka juga berani untuk bilang tidak tahu ketika mereka memang tidak tahu.

Walaupun demikian, perasaan rendah hati ini bisa kebablasan. Mungkin adik punya teman yang sering bilang setelah habis ujian, bahwa dia kuatir kalau nilainya jelek. Ternyata nilainya termasuk yang terbagus di kelas. Ketika ini sudah sering terjadi, teman – teman yang lain bisa mengatakan bahwa dia orang yang sombong, nilai bagus kok di bilang jelek? Terus bagaimana dengan nilai teman-teman yang lain? Padahal teman adik yang nilai-nya bagus itu belum tentu ingin membanggakan nilainya. Bisa jadi memang dia benar-benar kuatir dengan nilainya karena dia mempunyai standar pribadi atau definisi yang berbeda tentang arti dari nilai yang bagus.

SOLUSI: Bersikap apa adanya saja. Ketika mempunyai kekuatiran kalau nilai-nya jelek, tapi di masa lalu seringkali ternyata nilainya tidak sejelek yang dibayangkan, berbagilah kekuatiran ini dengan cerita HANYA kepada teman-teman yang sering dapat nilai bagus. Kalau diceritakan kepada teman-teman yang sering dapat nilai kurang bagus, dikuatirkan teman-teman jadi kesal atau menganggap sombong.

III). Mempunyai masalah ingatan

Masalah ingatan ini sering didefinisikan sebagai mudah lupa. Mungkin dari hal yang sederhana, seperti lupa taruh kunci, lupa taruh buku, lupa kerjakan PR, sampai dengan yang parah seperti lupa tanggal lahir, lupa nama sendiri, dan lain sebagainya.

Dengan adanya masalah mudah lupa, ikut mempengaruhi tentang pemahaman tentang sesuatu juga. Karena syarat untuk seseorang bisa memahami materi tertentu adalah bahwa materi itu juga menempel di otak-nya. Dengan kata lain, dia ingat dengan materi itu. Kalau lupa dengan materinya, otomatis jadi tidak paham.

Penyebab dari masalah mudah lupa ini sendiri secara umum terbagi dua, karena faktor fisik atau biologis dan faktor psikologis.

Kalau dari faktor fisik mungkin sejak lahir sudah mempunyai otak yang tidak mudah mengingat. Atau makanan yang dimakan sehari-hari kurang gizi, sehingga mempengaruhi fungsi kerja otak. Atau saat belajar sedang dalam kondisi lapar atau mengantuk, sehingga kesulitan konsentrasi sehingga materi atau pelajaran susah untuk menempel di otak.

Sedangkan kalau dari faktor psikologis, berbagai macam perasaan negatif yang di rasakan seseorang, jika terpendam atau sering terasa dalam hati, bisa menguras energi di tubuh dan otak, sehingga energi yang tersisa untuk membantu fungsi kerja otak jadi berkurang, sehingga otak lebih sulit untuk mengingat. Misalnya adik merasa kesal, kesepian, stress, takut, cemas, kuatir, bersalah, atau lainnya terhadap apapun, ketika perasaan-perasaan itu belum sepenuhnya hilang dari dalam hati, akan mempengaruhi konsentrasi dalam belajar. Ketika konsentrasi berkurang, otomatis kemampuan untuk mengingat dan memahami jadi berkurang. Sehingga perasaan paham diartikan sebagai sudah paham, padahal masih merasa paham.

Perasaan negatif ini tidak harus berhubungan dengan materinya, tapi bisa juga yang tidak berhubungan. Yang berhubungan misalnya kalau pelajaran-nya tidak disukai, akan membuat belajar jadi lebih stress, sehingga mengurangi konsentrasi belajar. Sedangkan yang tidak berhubungan dengan materinya misalnya di pagi hari ada perselisihan dengan saudara sehingga merasa kesal. Ketika perasaan kesal ini belum hilang ketika sampai di sekolah, konsentrasi belajar di sekolah juga bisa terganggu.

SOLUSI:

Berusaha menggali di dalam hati, perasaan negatif apa yang sering mengganggu, yang mempengaruhi konsentrasi belajar atau konsentrasi dalam mengajar? Apakah perasaan negatif ini berhubungan dengan materi-nya ataukah tidak berhubungan? Apa syaratnya supaya saya bisa merasa bahagia saat belajar atau mengajar?

Setelah tergali perasaan yang mengganggu, baru kemudian atasi, dengan cara yang bisa dilakukan sendiri dengan belajar melalui pelatihan (misalnya pelatihan Terapi Hati), buku, seminar, internet, dan lain sebagainya.

Jika masih bingung cara mengatasinya karena tidak tahu perasaan apa yang sebenarnya mengganggu atau tidak tahu cara mengatasinya, cara tercepat adalah dengan konsultasi atau terapi pribadi secara langsung dengan seseorang yang dipercaya yang bisa memberikan jawaban atas keluhan yang ada.

Semoga membantu.

Thanks.

Syahriar Rizza
Terapis Hati

Iklan

Bagaimana cara mengatasi anak yang nakal dan susah di atur?

Seorang Ibu mempunyai pertanyaan sebagai berikut:

Anak cewek saya usia 5 th dan sudah sekolah sejak umur 3 th.tinggal serumah dengan akung sama utinya. Sedangkan ayah-nya kerja diluar kota sejak 9 bln ini. Anak saya memang nakal sekali selagi tidak ada ayahnya dirumah. Tetapi kalau ayahnya pulang kerumah karena libur,anak saya jadi penurut dan pendiam. Dikarenakan yang ditakutkan dirumah adalah cuma sama ayahnya saja.sedangkan sama akung, utinya, sama mamahnya sendiri berani nya minta ampun. Sering sekali saya di bekap pake bantal dan didudukin diatasnya sambil dijatuhin. Saya berusaha diam tapi sianak malah menjadi, nambah seneng dan ketawa2. Karena saya nggak kuat akhirnya bantal tsb saya dorong sampe anak saya terjatuh dikasur. Sedangkan kalau disekolah anak saya jadi diam dan penakut. Saya memang setiap harinya kerja dari pagi sampe sore hari sedangkan setiap harinya si anak sama akung dan utinya. Mohon bantuannya, apa yang hrs saya lakukan? Saya sudah menghadapi dengan cara halus sampai kenceng tapi si anak masih nakal? Sekali lg mohon bantuannya.
terima kasih.

Jawaban:
Ketika anak berulah yang tidak beraturan atau tidak seharusnya, sedangkan menurut usianya harusnya sudah mengerti bagaimana seharusnya berperilaku, kemungkinan besar karena ingin mencari perhatian. Ibu bisa berbesar hati bahwa perilaku anak Ibu yang tidak seharusnya tersebut masih dilakukannya di rumah, bukan di sekolah. Sehingga lebih banyak yang bisa Ibu lakukan untuk memperbaiki kondisi di rumah.

Berhubung Ibu kerja, solusi ringkasnya adalah:
1). Meminta maaf sama anak jika sering marah dan meninggalkannya untuk bekerja, sehingga membuat dia sedih dan nggak bisa main sama Mama di rumah
2). Setiap malam sempatkan minimum 1/2 jam untuk main bersama dengan mematikan HP, TV dan gangguan external lainnya. Cari permainan yang disukai-nya, misalnya boneka, main rumah2-an, dan lainnya. Bisa juga memijat anak sekitar 1 menit sebelum dia tidur. Hal2 yang dilakukan walaupun hanya beberapa menit dalam sehari, jika fokus dan tepat sasaran, hasilnya bisa efektif. Bermain dengan anak 1/2 jam dengan perhatian fokus bisa lebih “terasa” di dalam hati anak daripada bermain bersamanya sekitar 3 jam tapi sambil nonton TV atau pegang HP.
3). Saat istirahat kantor, usahakan untuk menelpon dia (bisa dilakukan dengan menelpon akung, lalu minta telponnya dikasih ke anak). Sampaikan bahwa Mamah kangen lagi kerja, pengen cepet pulang ketemu dia. Lakukan hal ini 1X tiap hari. Kata2nya tidak harus selalu bilang kangen. Yang penting anak merasa Ibunya tetap memikirkan dan membayangkannya saat di kantor. Setiap telpon mungkin minimum 1 menit.
4). Ayah-nya minta maaf atas ke-“galak”-an yang pernah membuat anak takut. Ketika orang tua terlalu “galak”, anak jadi akan berusaha untuk membuat hatinya sedikit “mati rasa”, sehingga lain kali ketika dimarahi, hati-nya tidak akan terlalu sakit. Resikonya adalah, ketika anggota keluarga yang lain berperilaku lebih lembut, seakan-akan tidak mempan. Karena “mati rasa” anak membuat dirinya kurang bisa menerima ucapan atau perilaku-perilaku yang lebih lembut. Ketika hati anak sudah lebih lembut, anak akan merasa lebih mudah menerima apa yang di ucapkan oleh orang tua. Pastikan sebelum meminta anak melakukan sesuatu, selalu sampaikan tujuannya untuk apa. Sehingga anak merasa bahwa dia harus nurut bukan karena sekedar harus nurut, tapi dia merasakan bahwa sesuatu yang harus dilakukannya itu bermanfaat untuk dirinya.
5). Ketika semua di atas sudah dilakukan dan anak masih susah di atur, cari waktu yang tenang, kemudian tanyakan ke anak apa lagi yang bisa dilakukan dengan dia (alternatif) supaya dia merasa senang main dengan Mamah atau yang lainnya. Bisa disampaikan bahwa menutup dengan bantal itu membuat Mamah susah napas dan Mamah senang kalau bisa main yang lainnya. Sehingga nasehat yang baik tetap bisa di sampaikan, dengan terlebih dahulu membantu anak merasa nyaman di ajak ngobrol bareng.

Semoga Membantu.

Syahriar Rizza
Terapis Hati

Bagaimana cara membantu anak yang bicaranya “aneh-aneh”?

Dalam 3 hari terakhir anak suka ngomong sendiri (spt mengigo). Dan ngomongnya itu aneh-aneh (tentang kecelakaan dsb) sehingga membuat orang tua khawatir. Kalo ditanya oleh orang tuanya diam saja tidak menjawab. Bagaimana harus bersikap sebagai orang tua ?

Lebih sering ajak anak bermain. Kemudian katakan,”Kamu akhir2 ini suka ngomong sendiri. Kamu mau cerita sama Mama atau tidak, nggak apa2. Mama tetap sayang sama kamu. Kamu cerita apa saja, Mama janji nggak akan marah.” Kemudian perhatikan sikapnya pada hari2 berikutnya. Kemudian ketika sudah berkurang ngigaunya, katakan lagi, ”Kemarin-kemarin kamu ngomong yang Mama nggak ngerti. Ada apa? Lihat apa di dekat sekolah? Atau kamu mimpi?”

Seandainya ini bukan masalah anak satu-satunya, kemungkinan besar masalah anak sebelumnya juga ada hubungannya dengan keluhannya sebelum 3 hari terakhir tersebut. Seringkali apapun masalah anak (ataupun orang dewasa) terhubung dengan masalah-masalah lainnya yang pernah di alami sebelumnya. Ketika masalah-masalah tersebut teratasi, masalah-masalah yang terjadi sesudahnya juga ikut teratasi. Misalnya seorang anak yang sering dimarahi oleh orang tua biasanya ada yang menjadi anak penakut. Sehingga mudah jadi takut dengan berbagai macam hal, termasuk takut dengan hantu. Kemudian yang terlihat di mata orang tua adalah bahwa anak takut dengan hantu. Ketika orang tua menyadari hal ini, orang tua bisa minta maaf dengan anak karena telah sering memarahi & berusaha untuk mempraktekkan cara yang lebih baik dalam mendidik anak. Jika permohonan maaf dilakukan dengan cara yang efektif (PPPK), rasa takut anak terhadap orang tua akan jauh berkurang. Sehingga anak menjadi lebih berani & percaya diri. Tanpa di sadari anak, perasaan takut terhadap hantu-nya juga bisa ikut hilang.

Semoga Membantu.

Syahriar Rizza
Terapis Hati

Bagaimana Cara Mengatasi Anak yang Suka Membalas Ucapan Orang Tua?

Anak masih kecil tapi pinter “ngajawabin” orang tua, alias pinter ngomong. Gimana cara mengatasi anak yang pinter ngomong ini, tanpa melimitasi kelebihan dia dalam berbicara tersebut ?

Selamat Bu telah mempunyai anak yang cerdas. Kalau anak Ibu tidak cerdas, tidak mungkin dia bisa “ngejawabin” perkataan orang tua seperti itu. Walaupun demikian, wajar jika orang tua merasa kuatir jika anak-nya terus-menerus ngejawabin perkataan orang tuanya. Terutama jika dalam hal-hal tertentu dimana anak seharusnya melakukan sesuatu lebih cepat, tapi jadi semakin lama atau malah tidak dilakukan oleh anak karena anak menghabiskan waktu dengan terus-menerus menjawab perkataan orang tua. Dan biasanya yang semakin membuat orang tua bingung adalah ketika orang tua tidak tahu harus berkata apa lagi untuk membantu anaknya untuk melakukan hal yang baik.

Sebenarnya ketika anak pinter “ngejawabin” apa yang disampaikan oleh tua, secara umum itu adalah hal yang positif, karena anak berani mengungkapkan perasaannya kepada orang tua secara jujur. Karena banyak yang menjadi masalah orang tua adalah ketika anaknya terlalu penurut, tapi kemudian di temukan bahwa selama ini anak penurut bukan karena rela atau ikhlas untuk nurut, tapi karena merasa terpaksa atau takut dimarahi. Dimana semua perasaan terpaksa dan takut dimarahi ini akan membuat semakin terpendam di dalam hati anak, yang bisa “meledak” di kemudian hari dalam bentuk perilaku negatif yang berlebihan ataupun penyakit psikosomatis.

Akan tetapi, jika “ngejawabin”-nya berlebihan, dalam arti selalu dilakukan oleh anak setiap kali orang tua berbicara dengan anak, itu adalah tanda bahwa ada sesuatu di dalam hati anak yang harus diselesaikan. Jika tidak diselesaikan, bisa juga “meledak” di kemudian hari. Bukan hanya sekedar “ngejawabin”, tapi bisa sama sekali tidak mau nurut.

Secara umum, ada 4 penyebab mengapa anak “ngejawabin” perkataan orang tua yaitu, orang tua suka mengancam tapi ancaman sering tidak dilaksanakan (misalnya “kalau kamu nggak mau makan, besok Mama nggak suapin lagi” tapi besoknya tetap disuapin), orang tua suka menyuruh anak untuk menurut dalam melakukan sesuati tanpa menjelaskan kepada anak kenapa di suruh (misalnya “pokoknya harus nurut”), sering memarahi anak tanpa anak mengerti sebabnya atau anak sering menemukan orang tua berkata yang tidak sebenarnya (berbohong) kepada anak atau ke orang lain. Mari kita bahas satu per satu.

Banyak orang tua, ketika dalam keadaan terdesak & meminta anaknya melakukan sesuatu dan anaknya tidak mau nurut, kemudian mengancam akan menghukum anaknya. Ancaman ini bisa berupa ancaman hukuman fisik ataupun ancaman secara mental. Misalnya bisa ancaman akan dicubit ataupun ancaman tidak akan disuapin lagi. Saat memberikan ancaman, yang ada di benak adalah supaya anak takut dengan ancaman, sehingga mau menurut melakukan apa yang diminta oleh orang tua.

Tapi sayangnya tanpa disadari, banyak orang tua yang ketika memberikan ancaman, sebenarnya tidak akan tega untuk melaksanakan ancamannya jika anaknya tidak nurut. Misalnya orang tua mengancam jika anak tidak mau makan ketika disuapin, mulai besok Mama tidak akan menyuapin lagi. Tapi kemudian, keesokan harinya, ketika anaknya kelaparan (terlihat dari wajahnya), Mama tidak tega, akhirnya menyuapin anaknya daripada anaknya tidak makan. Akhirnya anak merasa ada sesuatu yang tidak konsisten dengan diri Mama. Sehingga ketika Mama mengucapkan sesuatu kepada anak, anak kemudian cenderung menganggap bahwa orang tua-nya tidak sungguh-sungguh dalam ucapannya, sehingga merasa tidak perlu memperhatikan perkataan orang tuanya, akhirnya kebiasaan “ngejawabin” ucapan orang tua mulai terbentuk.

Penyebab umum kedua mengapa anak suka “ngejawabin” secara berlebihan ucapan orang tua adalah karena orang tua suka menyuruh anak untuk menurut dalam melakukan sesuatu tanpa menjelaskan kepada anak kenapa di suruh. Ketika anak bertanya, “Kenapa aku harus belajar sekarang? Kan bisa nanti.” Orang tua menjawab, “Pokoknya harus sekarang, soalnya Mama bilang sekarang.” Kenapa aku harus tidur cepat? Kan belum ngantuk?” Orang tua menjawab, ”Mama bilang tidur sekarang, ya kamu tidur sekarang.”

Akhirnya anak belajar cara menanggapi pertanyaan seperti itu. Ketika orang tua bertanya, ”Kenapa kamu nggak mau belajar?” Anak menjawab, “Nggak mau aja.” Orang tua bertanya, “Kenapa kamu nggak mau tidur sekarang?” Anak menjawab, “Kan Mama juga belum tidur?” Orang tua bertanya, “Kamu kan besok harus bangun pagi untuk sekolah?” Anak menjawab, ”Mama besok kan juga harus kerja?” Semua kemungkinan ini bisa terjadi ketika anak sering disuruh untuk melakukan sesuatu tanpa diberikan penjelasan mengapa dia harus melakukan hal tersebut.

Penyebab umum ketiga mengapa anak suka “ngejawabin” secara berlebihan ucapan orang tua adalah karena orang tua sering memarahi anak tanpa anak mengerti sebabnya. Rasanya tidak enak di dalam hati ketika dimarahi oleh orang tua. Kemarahan dari orang tua, di tambah dengan kebingungan anak akan alasan kenapa dia dimarahi, perasaan sedih atau marah di dalam hati anak semakin terpendam. Lama-lama membuat anak merasa bahwa dirinya tidak diperhatikan, karena sering dimarahi, tanpa dia mengetahui sebabnya. Karena sering merasa tidak diperhatikan, akhirnya anak memiliki kesulitan untuk memperhatikan orang lain juga, termasuk kesulitan untuk mematuhi keinginan orang tua. Sehingga jadi sering “ngejawabin”.

Saya akan memberikan contoh tentang penyebab ketiga di atas, yaitu ketika orang tua memarahi anak tanpa anak mengerti sebabnya. Karena hanya contohn, belum tentu masalah yang serupa di alami oleh anak Ibu. Misalnya anak sedang ada masalah pergaulan dengan temannya di sekolah. Mungkin habis berselisih, rebutan mainan, saling mengejek, dan lain sebagainya. Kemudian anak merasa terluka hati-nya. Dalam kondisi tersebut, pulang ke rumah, ada kemungkinan pikiran anak masih di sekolah, walaupun secara fisik badannya sudah di rumah. Kemudian, misalnya, ketika makan malam agak lama, lalu di marahi, anak akan merasa bingung. Karena ketika sedang makan, sebenarnya sedang melamun tentang hal yang tadi terjadi di sekolah. Sehingga tidak sadar kalau makannya jadi lama. Sehingga tidak mengerti kenapa dirinya dimarahi. Akhirnya selain terluka hatinya karena kejadian di sekolah, luka hati bertambah dengan kemarahan yang di terima dari orang tua.

Penyebab keempat yaitu karena anak sering menemukan orang tua berkata yang tidak sebenarnya (berbohong) kepada anak atau ke orang lain. Dari bohong kecil sampai dengan bohong besar. Sehingga kadang-kadang anak jadi bingung apakah orang tua berkata yang sebenarnya atau tidak. Dengan kebingungan ini, ada kalanya anak merasa bahwa orang tua sedang berbohong, padahal tidak. Dan ketika anak merasa orang tua berbohong, anak merasa tidak perlu untuk langsung menurut apa yang disampaikan, sehingga mulai membalas ucapan orang tua atau “ngejawabin.”

Melihat dari jawaban di atas, semoga terlihat, terdengar & terasa lebih jelas, bahwa sesederhana masalah apapun yang di alami oleh seorang anak, penyebabnya belum tentu sederhana. Dengan semua keluhan yang ada, yang bisa di syukuri dari perilaku anak yang “ngejawabin” adalah, bahwa dirinya masih bersedia untuk mengungkapkan perasaannya, suka atau tidak suka dengan ucapan orang tua. Sehingga masalah bisa di atasi sejak dini. Karena ketika anak sudah tidak mau “ngejawabin”, tapi hanya diam saja, tapi sebenarnya tidak rela ketika diminta melakukan sesuatu oleh orang tua, akan ada perasaan negatif terpendam yang lebih dalam, karena tidak sempat muncul ke permukaan.

Bagaimana solusinya untuk mengatasi masalah ini? Bisa dimulai dengan menanyakan perasaan anak saat dia “ngejawabin” pertanyaan orang tua, “Apa yang kamu rasakan kalau Mama ngomong seperti ini? Kamu ingin apa? Kamu sebel sama Mama? Sama Papa? Sama temen?” Ketika nanti anak bisa lebih sering curhat sama Ibu, keinginannya untuk menurut dengan Ibu akan semakin meningkat.

Semoga Membantu.

Syahriar Rizza
Terapis Hati

Bagaimana Cara Mengatasi Nilai Akademis yang Jelek karena Anak tidak cocok dengan Guru?

Caranya dengan bertanya ke anak, apa saja yang telah terjadi sehubungan dengan guru yang bersangkutan. Apakah kejadian-nya berulang? Ataukah cuma satu atau dua kali, tapi menimbulkan trauma? Jika cuma satu atau dua kali, kemungkinan kejadian tersebut terjadi karena ketidaksengajaan dari guru tersebut. Sehingga bisa dilakukan terapi sederhana kepada anak dengan meminta anak untuk membayangkan bahwa orang tua adalah guru tersebut, orang tua (yang memainkan peran sebagai guru) meminta maaf kepada anak atas kesalahannya. Harapannya trauma anak hilang. Ada banyak terapi sederhana lainnya yang juga bisa dilakukan yang belum saya tulis disini.

Jika kejadian berulang, orang tua bisa berkunjung ke sekolah dan berusaha untuk berbicara dengan guru tentang hal yang terjadi. Lalu berkomunikasi untuk berusaha mengatasi kondisi yang ada. Idealnya adalah guru dan anak bisa duduk berhadapan & saling memaafkan. Lalu saling berjanji untuk menjadi guru dan murid yang lebih baik.

Semoga Membantu.

Syahriar Rizza
Terapis Hati

Normalkah Anak Lelaki yang Suka Bermain Boneka?

Seorang anak lelaki suka maen boneka (tapi bukan boneka nya anak wanita), apakah normal ? Apakah perlu dilarang anak laki bermain boneka ?

Adalah wajar ketika orang tua dari anak lelaki merasa kuatir kalau anaknya main dengan benda-benda yang biasanya dimainkan oleh anak perempuan. Takut jadi kayak perempuan atau lebih parah lagi ketika dewasa. Namanya anak-anak, kalau dilarang biasanya malah jadi makin ingin. Semakin dilarang bermain boneka, semakin ingin main boneka. Salah satu cara yang bisa dilakukan supaya anak berkurang main boneka adalah dengan cara memberinya permainan yang lain yang lebih laki-laki, tentunya yang disukainya. Juga bisa mengajak Ayah supaya lebih sering main dengan anak laki-laki permainan yang lebih kelaki-lakian. Atau diberi tontonan TV, DVD atau VCD yang lebih kelaki-lakian. Atau diajak beli buku cerita atau komik mendidik (misalnya sejarah pahlawan, ilmuwan, dan lainnya) yang pemeran utamanya laki-laki.

Walaupun berbagai hal sudah dilakukan, pada beberapa anak laki-laki memang ada yang kecenderungannya seperti perempuan. Kalau dilihat dari sebabnya, mungkin pernah melihat atau mengalami bahwa laki-laki itu kurang baik. Mungkin melihat ortu, paman, kakek, guru laki-laki dan lainnya yang berbuat kurang baik, sehingga secara umum jadi menganggap laki-laki itu kurang baik, sehingga lebih memilih untuk bermain yang ke-perempuan-an.

Seandainya sepertinya tidak ada trauma seperti ini, semua baik2 saja, yang penting tetap berikan kasih sayang tanpa syarat kepada anak. Ada anak yang dilahirkan IQ tinggi/rendah, dengan wajah ganteng/kurang ganteng, dengan badan tinggi/pendek, dan lain sebagainya. Setiap anak mempunyai tantangannya sendiri dalam menghadapi kehidupan. Dengan kasih sayang tanpa syarat yang bisa di berikan, harapannya anak bisa berusaha untuk sukses dalam hidupnya bukan untuk orang tua, tapi untuk dirinya sendiri. Dan dia tahu bahwa dia adalah laki-laki, dan semakin dewasa akan secara rela lebih memilih untuk memilih mainan atau beraktifitas sewajarnya laki-laki. Untuk informasi lainnya tentang kehidupan anak, orang tua, suami atau istri.

Semoga Membantu.

Syahriar Rizza
Terapis Hati

Bagaimana Membuat Anak Kelas 1SD Supaya Mau Menulis Bersambung?

Ketika Ibu mempunyai keinginan supaya anak menulis dengan huruf sambung, apakah karena akan mempengaruhi nilai di sekolah? Ataukah hanya karena kelihatan lebih bagus saja? Kalau hanya sekedar kelihatan lebih bagus, sebaiknya dibiarkan saja dia menulis dengan cara pilihannya. Masih banyak hal lain yang bisa dilakukan untuk membantu-nya dalam belajar. Jangan sampai dia merasa terpaksa akhirnya merasa trauma di suruh tulis huruf sambung, karena terus-menerus di suruh seperti itu.

Yang lebih baik dilakukan adalah membantunya supaya menulis huruf cetaknya bisa lebih bagus lagi. Misalnya dengan mengatakan, “Tulisan sambung kamu hebat. Nggak banyak anak kelas 1SD yang bisa menulis sambung sehebat kamu. Ibu juga yakin tulisan cetak kamu bisa sebagus tulisan sambung kamu. Mau di ajarin sama Ibu, supaya tulisan cetak kamu sama bagusnya dengan tulisan sambung kamu?” Kalau anak nggak mau, tinggal di katakan, “Kalau kamu belum mau diajarin sama Ibu, nggak apa2. Kamu menulis sambung atau cetak, Ibu tetap sayang sama kamu apa adanya.” Kalimat yang terakhir ini adalah untuk mengantisipasi perasaan anak seandainya dia merasa bahwa untuk di sayang oleh Ibu, dia harus menulis sambung. Dengan kalimat terakhir tadi, adalah untuk membantu anak bahwa dirinya di sayang apa adanya, tanpa syarat.

Semoga Membantu.

Syahriar Rizza
Terapis Hati

Bagaimana Cara Membuat Anak Mau Lebih Banyak Belajar Daripada Main di Rumah?

Seorang anak mempunyai kehidupan yang cukup komplit. Kehidupan di sekolah, rumah & luar rumah. Kesempatan untuk bermain, belajar, sosialisasi, dan sebagainya. Semakin seimbang kehidupan seorang anak, semakin terealisasi kehidupan yang diinginkan anak untuk dialaminya. Dan ketika seorang anak mempunyai nilai akademik yang cukup bagus di sekolah, adalah idaman semua orang tua.

Akan tetapi ketika anak sampai di rumah, yang inginnya maen terus, dalam beberapa hal tentunya wajar jika menimbulkan kekuatiran pada diri orang tua. Termasuk tentang masa depan anak, karena semua orang tua menginginkan anak-nya tumbuh dewasa menjadi orang sukses di kemudian hari.

Yang jadi pertanyaan adalah, berapa jam sehari-kah jumlah waktu yang wajar untuk seorang anak bermain dalam sehari? Berapa jam untuk belajar? Berapa jam untuk melakukan aktifitas yang lainnya? Masing-masing anak, orang tua & keluarga mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda mengenai hal ini.

Kalau ada satu hal yang perlu dijaga pada diri anak ketika berbicara tentang pelajaran & belajar yaitu bahwa anak harus merasa senang & rela untuk belajar. Ketika terlihat ada keterpaksaan di dalam diri anak setiap kali belajar, akan beresiko menimbulkan perasaan di dalam hati anak terhadap pelajaran. Dan semakin besar perasaan stress di dalam hati anak jika berkaitan dengan belajar, akan semakin sulit buat anak untuk bisa belajar dengan senang & ikhlas. Sehingga bisa dilakukan berbagai hal untuk membuat anak merasa lebih suka belajar. Mungkin di rubah jam belajarnya, mungkin dengan buku panduan extra yang tidak di haruskan, tapi menarik buat anak misalnya dengan buku-buku pelajaran yang dipenuhi dengan gambar-gambar, dengan buku-buku cerita yang mengandung pelajaran, belajar dengan cara belajar, bergantian belajar dengan Ayah atau Ibu, dan lainnya.

Sedangkan pendapat bahwa anak maunya maen terus, apakah dibiarkan saja atau dikurangi jam main-nya, tergantung jumlah waktu bermain. Apakah 2 jam sehari? 3 jam? Atau 6 jam sehari? Kemudian apakah dengan bermain itu, anak jadi tidak punya waktu untuk melakukan aktifitas lainnya?

Dengan asumsi anak tidak mempunyai masalah dengan orang tua (selalu jujur dengan orang tua ketika berkomunikasi), merasa dikasihi secara adil dengan adik atau kakak, tidak ada masalah di sekolah, sehingga SATU-SATUNYA masalah hanya kelebihan main di rumah, yang bisa dilakukan adalah dengan cara membuat kesepakatan BERSAMA anak tentang jumlah waktu main & belajar di rumah. Ketika anak tidak tahu berapa lama dia diijinkan untuk bermain, kecenderungannya adalah dia akan berusaha untuk bisa bermain selama mungkin. Ketika saat belajar, dia tidak tahu apakah bisa bermain setelah itu atau tidak, karena belum ada kesepakatan, anak bisa membayangkan bermain saat dia sedang belajar. Tapi ketika ada kesepakatan kapan belajar & kapan bermain, anak bisa tahu secara pasti bahwa dia akan punya kesempatan untuk bermain & belajar. Sehingga akan lebih mudah untuk anak bisa belajar.

Yang perlu diperhatikan juga adalah jenis permainan yang dilakukan oleh anak. Lebih baik jika permainan melibatkan anak-anak yang lain, sehingga kemampuan social anak bisa lebih terlatih. Seandainya permainan-nya adalah permainan elektronik yang dilakukan di depan televise atau computer, bisa dipastikan bahwa permainan cocok untuk anak seusia-nya. Sehingga perkembangan mental & kejiwaan anak bisa berkembang secara maksimal demi masa depan-nya.

Semoga Membantu.

Syahriar Rizza
Terapis Hati

Bagaimana Cara Menghindari Kebiasaan Anak Berbohong Sejak Kecil?

Sebagai orang tua, adalah sangat wajar ketika mempunyai kekuatiran saat anaknya berbohong. Apalagi jika berbohong-nya terus-terusan alias tanpa henti. Berbohong tentang kejadian di sekolah, berbohong tentang sudah makan atau belum. Berbohong sudah mandi atau belum, dan berbagai kebohongan lainnya. Kecenderungan orang tua kemudian adalah menasehati anak supaya tidak berbohong. Dan ketika nasehat tidak di dengarkan, semakin membuat bingung orang tua. Sehingga perlu ada pendekatan lain untuk membantu anak berhenti berbohong, tanpa terlalu sering marah atau memberikan nasehat. Karena jika sudah marah atau menasehati berulang-kali, sedangkan kebohongan tetap terjadi, itu sebagai tanda bahwa kemarahan ataupun nasehat kurang efektif dalam mengatasi kebohongan.

Jika yang ingin di hentikan hanyalah kebohongannya, sedangkan penyebab kebohongan tidak di gali, kemungkinan kebohongan tetap akan terus terjadi. Sehingga mencari penyebab & mengatasi penyebab kebohongan adalah cara terbaik untuk menghentikan kebohongan.

Ada banyak penyebab mengapa anak mudah berbohong. Tiga penyebab utama adalah anak berbohong adalah untuk mencari perhatian, karena meniru orang dewasa di sekitarnya & karena takut dengan resiko dari berkata jujur. Mari kita bahas satu per satu.

Setiap anak haus akan perhatian & pikiran yang sering ada di dalam kepalanya adalah, “Papi atau Mami sayang atau nggak ya sama aku?” Tanpa disadari anak sering melakukan berbagai hal yang tujuannya untuk mendapatkan perhatian, sebagai tanda bahwa dirinya disayangi. Ketika seorang anak merasa diperhatikan oleh orang tua-nya, anak akan merasa senang di dalam hatinya. Kita semua tahu tentang hal ini. Yang mungkin belum di ketahui oleh banyak orang adalah, menurut penelitian, bahwa perhatian yang negative lebih diinginkan oleh anak daripada tidak dipedulikan oleh orang tua. Dengan kata lain, sebagai contoh, anak akan merasa lebih di sayang ketika dimarahi oleh orang tua karena misalnya tidak mau belajar, daripada didiamkan saja seolah-olah orang tua tidak perduli anak mau belajar atau tidak. Tentunya cara yang terbaik bukan dimarahi, tapi ternyata dimarahi lebih diinginkan anak dari pada tidak dipedulikan. Ketika penelitian kebohongan ini dihubungkan dengan kondisi berbohong, ketika anak merasa dirinya tidak dipedulikan, anak tahu secara pasti bahwa dirinya akan diperhatikan jika berbohong (seperti dimarahi, diomelin, dinasehati, dll). Dan ketika anak sudah terbiasa bahwa dirinya hanya diperhatikan lebih banyak jika dirinya berbohong, kebohongan akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang sulit dihilangkan oleh sang anak. Karena otak anak tanpa disadari sudah menghubungkan antara kegiatan berbohong dengan perhatian orang tua.

Penyebab umum kedua dari mengapa anak suka berbohong adalah karena meniru kebohongan dari orang dewasa di sekitarnya. Misalnya seorang anak sedang jalan-jalan dengan keluarga ke mall dan kemudian berkata kepada orang tua, “Mami, belikan aku mainan dong!” Kemudian Mami menjawab, “Mami nggak ada uang.” Lalu beberapa menit kemudian anak melihat Mami mengambil dompet dari tas-nya dan mengeluarkan beberapa lembar uang Rp100rb untuk membayar barang belanjaan. Alam bawah sadar anak akan menangkap, bahwa Mami telah berbohong karena tadi bilangnya “nggak ada uang”, ternyata barusan mengeluarkan beberapa ratus ribu rupiah dari dalam dompet. Mungkin yang ada di kepala Mami niatnya bukan berbohong. Mungkin yang ada dalam pikiran Mami adalah, “Uang Mami habis untuk beli belanjaan makanan buat di rumah, sehingga nggak ada sisanya untuk beli mainan.” TAPI, yang keluar dari mulut Mami adalah, “Mami nggak ada uang.” Berhubung anak tidak bisa membaca pikiran Mami, anak menangkap kebohongan. Padahal kalau Mami bisa menjelaskan lebih lengkap, “Uang Mami sudah dibagi untuk bayar listrik, untuk bayar sekolah, beli makanan buat di rumah, beli baju kamu, jadi uangnya untuk beli mainan sekarang sudah tidak ada. Mungkin bulan depan ya kita beli mainan?”, anak mungkin akan lebih bisa menerima & tetap menganggap bahwa Mami orang yang jujur.

Cerita di atas hanyalah salah satu contoh dari berbagai kemungkinan yang ada tentang peniruan anak-anak terhadap tindakan orang dewasa. Mungkin anak sering dibohongi oleh temannya, mungkin anak sering dibohongi oleh pembantu, dan lainnya. Mungkin juga dalam pergaulan anak suka melihat candaan orang dewasa dengan cara berbohong, misalnya , ”Kamu tahu nggak, Papi dulu kan pernah jadi pilot?” Ketika anak kelihatan bingung, karena Papinya selama ini kalau kerja hanya pergike kantor, Papi lalu berkata, “Hehehehe, tadi percaya ya? Nggak kok, Papi belajar terbang saja nggak pernah.” Akhirnya anak merasa bahwa berbohong adalah hal yang biasa.

Contoh lainnya misalnya Papi ngomong, “Kalau kamu tidak mau makan malam, nanti kalau tidur digigit ular lho?” Saat ini diucapkan, anak jadi takut lalu kemudian mau makan. Kemudian suatu saat tidak makan malam, dan ketiduran, dan keesokan harinya baik-baik saja alias tidak ada ular yang menggigir, akhirnya anak menangkap kebohongan dari Papi.

Sehingga untuk menghindari peniruan anak dari kebohongan orang dewasa, SEMUA jenis komunikasi, bercanda, nasehat yang melibatkan kebohongan, HILANGKAN. Dan minta maaf kepada anak jika memang pernah berbohong lalu sepertinya anak meniru kebohongan.

Hal umum ketiga yang membuat anak mudah berbohong yaitu karena takut dengan resiko jika berkata jujur. “Kalau aku ngomong jujur, aku nanti diapain ya? Apakah di omelin, dimarahi, dihukum, atau apa ya?” Ketika berbagai macam resiko jika jujur masih terpendam di dalam hati anak, kecenderungan anak untuk berbohong terus akan terjadi. Karena manusia pada dasarnya mempunyai insting alami untuk melindungi hatinya supaya tidak terluka.

Mengapa ada rasa takut di dalam hati anak akan resiko jika jujur? Secara umum karena pernah terjadi dan/atau pernah di ancam. Dulu, ketika jujur, pernah di marahi, diomelin, di hokum dan lainnya. Dulu, sering di ancam supaya mau jujur.

Seandainya sudah terjadi, ada ketakutan dalam hati anak untuk berkata jujur, apa yang bisa dilakukan oleh orang tua? Yang pertama yaitu memastikan bahwa ketakutan anak untuk berkata jujur bukan di sebabkan oleh oleh orang tua. Jika memang orang tua yang menyebabkannya, orang tua bisa meminta maaf dengan anak untuk mengobati luka hati anak di masa lampau akibat dimarahi, di hokum dll ketika berkata jujur. Kemudian berjanji tidak marah jika anak berkata jujur.

Sehingga ada tiga penyebab umum mengapa anak tidak jujur, yaitu untuk mencari perhatian, peniruan dari orang dewasa disekitarnya dan karena takut dengan resiko jika jujur.

Kalau begitu, apakah orang tua tidak boleh menunjukkan kemarahan ataupun menghukum anak? Idealnya memang begitu. Karena kemarahan yang ditunjukkan & hukuman yang diberikan kepada anak bisa melukai perasaan anak, yang bisa terbawa sampai di usia lanjut, bahwa ketika orang tua sudah meninggal dunia beberapa puluh tahun sebelumnya.

Semoga Membantu.

Syahriar Rizza
Terapis Hati

Bagaimana caranya supaya anak mudah untuk konsentrasi dan duduk diam saat belajar?

Supaya anak bisa berkonsentrasi dalam jangka panjang, yang sebaiknya dilakukan adalah bukan sekedar membuat anak supaya mau duduk diam & belajar, tapi bisa diusahakan untuk mencari PENYEBAB mengapa anak susah untuk diam & belajar. Karena jika anak disuruh untuk duduk diam & belajar, sedangkan penyebab anak seperti itu tidak diatasi, di kemudian hari kemungkinan anak akan tetap mengalami kesulitan dalam belajar.

Ada banyak penyebab mengapa anak tidak bisa berkonstrasi ketika belajar. Ada penyebab dari faktor fisik dan ada juga penyebabnya dari faktor perasaan. Kalau dari faktor fisik, penyebabnya bisa jadi memang ada masalah dengan syaraf anak sejak kecil yang menyebabkannya susah untuk berkonsentrasi. Misalnya untuk anak yang masuk kategori penyandang autism atau ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Untuk memprediksi awal apakah kesulitan anak untuk konsentrasi belajar disebabkan oleh autism atau kah ADHD, cara yang paling sederhana adalah dengan mengamati kegiatan sosialisasi anak2 sehari-hari. Seandainya selain kegiatan belajar, anak tidak mengalami kesulitan dalam bersosialisasi, dan anak juga tidak mengalami kesulitan untuk konsentrasi dalam melakukan hal2 yang di sukai-nya, misalnya membaca buku kesukaannya, kemungkinan besar anak bukan penyandang autism ataupun ADHD. Jika anak sulit konsentrasi dalam SEMUA hal & ketika di ajak berkomunikasi secara normal anak seperti mempunyai kesulitan untuk bertatapan mata, ada kemungkinan anak adalah penyandang autism. Untuk mengetahui secara pasti apakah anak di diagnose dengan autism atau kah ADHD, anak bisa di bawa ke psikolog untuk di lakukan tes lebih lanjut.
Faktor fisik yang lainnya penyebab anak sulit untuk konsentrasi bisa juga karena sedang mengantuk, sehingga yang dipikirkan anak hanya ingin tidur. Untuk mengatasinya bisa dilihat apakah jam tidur anak sudah cukup. Jika belum, usahakan anak mendapatkan jam tidur yang cukup sehingga bisa konsentrasi belajar. Selain rasa ngantuk, bisa juga anak sedang merasa lapar, sehingga yang dipikirkan anak di kepala-nya adalah makanan, sehingga sulit konsentrasi ke pelajaran. Pastikan anak tidak merasa lapar saat belajar, untuk memudahkan otaknya menerima pelajaran yang diberikan.

Di atas telah di bahas faktor fisik yang umumnya menjadi penyebab mengapa anak sulit konsentrasi untuk belajar. Tapi biasanya, faktor terbesar yang menyebabkan anak sulit konsentrasi belajar adalah karena faktor perasaan. Dan dalam faktor perasaan, penyebab anak sulit konsentrasi untuk belajar dibagi lagi menjadi 2 bagian, yaitu penyebab yang berhubungan secara langsung dengan pelajaran dan penyebab yang tidak berhubungan secara langsung dengan pelajaran.
Penyebab dari segi perasaan yang berhubungan langsung dengan pelajaran contohnya adalah trauma terhadap pelajaran karena pernah dimarahi orang tua tau guru ketika nilai pelajaran jelek, pernah dipermalukan oleh teman ketika nilai pelajaran jelek, pernah di hukum di depan kelas ketika nilai pelajaran jelek, orang tua atau guru yang galak dalam memberikan pelajaran, ketidak-sukaan anak terhadap mata pelajaran yang bersangkutan, dan berbagai penyebab lainnya. Selama trauma dihukum, dimarahi, diomelin, dipermalukan dan lainnya terhadap pelajaran yang bersangkutan belum diatasi sepenuhnya, kesulitan konsentrasi anak dalam belajar akan cenderung tetap terjadi. Karena tanpa disadari oleh anak, setiap kali melihat buku pelajaran yang membuat trauma, yang muncul dalam bayangannya adalah peristiwa dalam hidupnya yang membuatnya kecewa dengan dirinya sendiri, karena di hokum, dimarahi, diomelin dan lainnya yang membuat dirinya merasa bahwa dia tidak mampu untuk belajar dengan baik.
Sedangkan penyebab anak sulit konsentrasi untuk belajar dari sisi yang tidak berhubungan secara langsung dengan pelajaran adalah misalnya ada masalah dengan teman, kakak, adik, orang tua, guru, tetangga, paman, tante, kakek, nenek dan lain sebagainya. Kehidupan seorang anak bukan hanya menyangkut pelajaran, tapi juga menyangkut kehidupan sosialnya dengan orang2 di sekitarnya. Tidak ada kehidupan anak yang sempurna. Pasti ada minimum satu bagian dari hidupnya, dimana anak merasakan perasaan yang tidak enak di dalam hatinya. Mungkin anak merasa sering dimarahi oleh orang tua, sehingga dia merasa tidak nyaman atau aman dalam hidupnya. Mungkin anak juga merasa dipilih kasih oleh orang tua-nya dibandingkan kakak atau adiknya. Mungkin anak merasa bahwa dirinya dibandingkan dengan saudara-saudaranya dan teman-temannya oleh orang tua maupun guru. Mungkin saat di sekolah anak merasa tidak nyaman dengan pergaulan dengan guru maupun teman-temannya. Mungkin secara umum anak merasa tidak bahagia karena merasa kurang di sayang, kurang di dengarkan, dan berbagai hal lain yang diinginkan oleh seorang anak. Semua hal ini bisa mengganggu perasaan anak sehingga menyebabkannya sulit konsentrasi dalam belajar. Sulit buat anak untuk belajar sebagai persiapan ujian keesokan hari di sekolah jika misalnya sang anak merasa takut bahwa besok dirinya akan di ejek oleh temannya di sekolah. Ketika anak sering merasa bahwa dirinya kurang di sayang oleh orang tua, sulit juga baginya untuk bisa konsentrasi belajar, sedangkan yang ada didalam hatinya adalah perasaan, “Mama-ku sayang nggak ya sama aku? Kok aku dimarahi terus setiap hari?”

Berbagai hal di atas adalah berbagai contoh KEMUNGKINAN dari penyebab anak kesulitan untuk konsentrasi belajar. Sehingga dalam masalah apapun yang di hadapi anak, cara yang terbaik adalah berusaha mencari penyebabnya, yaitu dengan cara berkomunikasi dengan anak.

Tapi biasanya ada masalah baru, yaitu anak tidak mau menjawab atau bingung untuk menjawab ketika di tanya penyebab dari mengapa dia tidak bisa konsentrasi belajar. Jika ini yang terjadi, berarti ada masalah di belakang masalah. Masalah awalnya adalah anak sulit konsentrasi belajar. Untuk mengetahui sebabnya, anak perlu di tanya. Tapi ketika di tanya, anak tidak mau atau bingung untuk menjawab. Berarti ada masalah baru, yaitu anak tidak mau atau bingung untuk menjawab. Mari kita jawab satu per satu.

Ketika anak ditanya dan tidak mau menjawab, berarti ada perasaan takut di dalam hati anak untuk menjawab. Yaitu takut dengan resiko jika menjawab. Apakah resikonya yang ada di benak anak? Bisa macam-macam, tergantung apa saja yang telah di alami oleh anak selama ini. Mungkin takut di marahi, takut dianggap berbohong, takut bahwa jawabannya tidak menyelesaikan masalah, takut tidak di dengarkan, takut di omelin, takut dilaporkan ke guru atau teman (jika masalah menyangkut dengan guru atau teman di sekolah), dan berbagai resiko lain yang di takuti oleh anak jika menjawab pertanyaan. Jika ini yang terjadi, bantu anak untuk memahami bahwa dia bisa jawab apa saja dan orang tua janji tidak akan marah. Atau janji akan berusaha membantu anak. Atau jika masalah anak karena takut di marahi, orang tua janji untuk minta maaf & berusaha untuk tidak marah2 lagi. Sehingga anak merasa aman & nyaman untuk menjawab pertanyaan, tanpa takut dengan resikonya, sehingga orang tua mendapatkan jawaban dari masalah anak & bisa berusaha untuk mengatasi penyebabnya. Apakah itu denga berusaha mengatasinya sendiri atau dengan cara mencari bantuan professional seperti dari seorang Terapis Hati.

Jika anak merasa bingung dengan pertanyaan, “Mengapa kamu sulit konsentrasi belajar?”, kemungkinan karena pertanyaannya salah. Pertanyaan “mengapa”, “kenapa” & “bagaimana” adalah pertanyaan-pertanyaan alam sadar. Maksudnya adalah, supaya anak bisa menjawab pertanyaan dengan jenis ini, otak anak harus memproses pertanyaan sebelum bisa memberikan jawabannya. Pada umumnya anak tidak begitu paham mengapa dia sulit konsentrasi belajar. Yang dia tahu hanyalah bahwa dia sulit konsentrasi belajar? Mengapa? Tidak tahu, bingung, mungkin karena ini, mungkin karena itu, dan lain sebagainya. Berbagai jawaban ini tidak ada manfaatnya bagi orang tua, karena tidak bisa dimanfaatkan untuk membantu anak supaya bisa lebih konsentrasi belajar.

Kalau begitu, jenis pertanyaan apa yang bisa ditanyakan, supaya jawaban anak lebih akurat? Yaitu dengan pertanyaan alam bawah sadar: apa, siapa, kapan & dimana. Beberapa contoh sebagai berikut: “Apa-nya yang tidak kamu sukai dari pelajaran ini? Pelajaran apa yang kamu sukai & tidak sukai? Hapalan, hitungan, soal cerita, atau apanya? Siapa guru yang kamu sukai & tidak sukai? Siapa yang pernah memarahi kamu kalau tidak mau belajar? Siapa yang pernah memarahi kamu kalau nilai kamu jelek? Kamu lebih suka belajar dengan siapa, Papi atau Mami? Mulai kapan kamu tidak suka dengan pelajaran ini? Kapan kamu merasa lebih suka belajar, pagi, siang, sore atau malam? Konsentrasi belajar kamu biasanya paling bagus sekitar jam berapa?”
Dengan berbagai pertanyaan ini jawaban yang di dapatkan oleh orang tua akan lebih bermanfaat, dibandingkan jawaban dari pertanyaan “kenapa”, “mengapa” atau “bagaimana”. Memang tidak mudah, tapi dengan latihan & praktek berbagai hal yang awalnya tidak mudah akan semakin mudah.

Walaupun demikian, pertanyaan “kenapa”, “mengapa” atau “bagaimana” tetap bermanfaat, asalkan penggunaannya sesuai dengan tujuan yang ingin di capai oleh yang bertanya. Seperti apa persisnya, akan di bahas pada artikel yang lain.

Semoga Membantu.

Syahriar Rizza
Terapis Hati