Tidak Memahami Fungsi Batin atau Hati Bisa Menyebabkan Mati Rasa


Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa merasakan keberadaan diri kita di dunia ini. Kita bisa melihat diri kita di depan kaca. Kita bisa melihat wajah kita seperti apa & tubuh kita seperti apa. Ketika berjalan kita bisa memperhatikan bagaimana kita berjalan. Ketika berbicara dengan orang lain kita bisa perhatikan kata-kata yang keluar dari mulut kita. Dan dengan berbagai kejadian yang kita alami di kehidupan kita, hati kita juga bisa merasakan berbagai perasaaan yang timbul akibat berbagai peristiwa tersebut, positif maupun negatif.

Akan tetapi cukup banyak juga di antara kita yang kadang2 merasa seperti dirinya hilang. Seperti bingung apa yang sebenarnya di rasakan dalam hati tentang kehidupan yang dijalani. Dan kemudian lebih sering bicara dengan diri sendiri dan merasa malas untuk bicara dengan orang yang dirasa tidak ada kecocokan. Apa yang sebenarnya terjadi? Demikian pertanyaan salah seorang rekan.

Ketika batin atau hati kita merasakan seperti ada yang hilang, banyak perasaan yang sebenarnya sedang dirasakan oleh hati kita tercinta. Bisa jadi sedang merasakan perasaan kesepian atau kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Tapi bukan hanya sekedar orang lain, tapi orang lain yang benar-benar mengerti perasaan yang kita rasakan. Bisa juga karena dalam kehidupan, sering merasakan berbagai perasaan negatif seperti marah, stress, dan berbagai beban emosi negatif lainnya, membuat batin atau hati kita menjadi capai. Kemudian seperti seakan-akan lebih mudah ketika mengabaikan semua perasaan yang mengganggu tersebut. Seakan-akan merasa tidak sepatutnya kita merasakan semua perasaan negatif tersebut, dengan semua hal yang bisa kita syukuri di dunia ini.

Tanpa di sadari, kecenderungan untuk mengabaikan perasaan dalam hati ini adalah tanda bahwa kita kurang bersyukur dengan batin atau hati yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Pencipta kepada kita. Hati (bukan hati “liver”, tapi hati/batin yang sifatnya abstrak) diciptakan untuk merasakan perasaan. Perasaan-perasan itu muncul dan dirasakan sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang harus diselesaikan. Perasaan marah sebagai tanda untuk menyelesaikan masalah dan memaafkan orang lain. Perasaan stress sebagai tanda untuk mengurangi beban stress dan meningkatkan kemampuan untuk menghadapi tekanan. Dan perasaan-perasaan negatif lain-nya pun mempunyai fungsi-nya masing-masing sebagai indikator atau tanda bahwa ada sesuatu dalam kehidupan kita yang harus diselesaikan. Mengabaikan semua perasaan yang wajar dirasakan oleh manusia ini membuat hati semakin terbebani dengan semua perasaan negatif, sampai tiba di suatu titik yang di sebut dengan MATI RASA. Seakan-akan sudah tidak merasakan apa2 lagi. Dengan mati rasa ini, perasaan negatif yang lainnya bisa timbul, seperti perasaan kurang di perhatikan. Dan yang lebih menyakitkan, perasaan negatif yang dirasakan akibat mati rasa ini adalah perasaan kurang diperhatikan oleh diri sendiri. Padahal diri kita sendiri adalah orang yang paling kita bisa andalkan untuk menyayangi dan memperhatikan diri kita sendiri.

Dalam kondisi sakit di dalam batin/hati seperti ini, tentunya batin/hati lebih mudah terluka ketika terjadi sesuatu yang kurang menyenangkan dalam hidup. Interaksi dengan orang lain, terutama yang tidak dirasakan ada kecocokan, bisa semakin berkurang, untuk mencegah melukai hati lebih lanjut.

Dan lama-kelamaan, tanpa di sadari, mulai muncul berbagai macam penyakit. Yang tadinya hanya sekedar psikosomatis, yaitu penyakit fisik yang disebabkan secara langsung oleh emosi negatif, menjadi penyakit yang bisa lebih mudah terdeteksi dengan peralatan medis. Kemampuan metabolisme & imunitas tubuh menurun, dan semakin mudah bagi penyakit lainnya untuk timbul di dalam tubuh. Jika siklus-nya tidak di berhentikan, berbagai kemungkinan yang tidak ingin kita bayangkan bisa terjadi.

Dan semuanya itu di awali dengan kecenderungan mengabaikan perasaan negatif di dalam hati. Tapi semuanya itu tadi hanyalah berbagai kemungkinan yang bisa terjadi, nanti. Sekarang kita bisa semakin bersyukur bahwa hati kita masih bisa merasakan berbagai perasaan, baik negatif maupun positif. Dan melakukan semua yang kita bisa lakukan, sendiri atau dengan bantuan orang lain yang kita percayai, untuk mengatasi berbagai perasaan yang kita rasakan. Dan tetap berusaha mengatasi berbagai tantangan yang di hadapi dalam hidup ini. Sampai jumpa pada artikel berikutnya. Semua yang saya sampaikan di atas juga saya tujukan untuk diri saya sendiri.

Syahriar Rizza
Terapis Hati
rizza@terapihati.com

Perihal Syahriar Rizza
Terapis Hati

2 Responses to Tidak Memahami Fungsi Batin atau Hati Bisa Menyebabkan Mati Rasa

  1. Riska mengatakan:

    Aku sudah 8 hari ini mengalami mati rasa. .
    Mungkin karena saking sakit hatinya aku dengan seseorang, membuat hatiku mati rasa. .
    Apa yg harus aku lakukan??

    • Syahriar Rizza mengatakan:

      Riska yang Terhormat,

      Sebelum mati rasa-nya di atasi, sebaiknya di cari tahu dulu apa yang telah membuat mati rasa. Ketika penyebab mati rasa di atasi, mati rasa-nya akan berubah menjadi sakit hati biasa. Lalu sakit hati biasa ini akan lebih mudah di atasinya.

      Dalam kondisi mati rasa, memang rasanya tidak mudah untuk membaca artikel ini. Karena seringkali, ingin-nya mati rasanya langsung berkurang atau hilang, tanpa berusaha untuk mengatasinya. Karena beratnya mati rasa, membuat seperti tidak ingin melakukan apa2.

      Tapi ketika Riska bisa bersabar untuk membaca artikel ini, kekalutan yang ada di perasaan & pikiran Riska bisa lebih mudah di cerna. Harapannya Riska bisa memilah tentang apa yang harus di atasi & dilakukan terlebih dulu,

      Secara umum, mati rasa di sebabkan oleh salah satu atau lebih dari hal2 berikut:
      1). Penumpukan emosi negatif yang terlalu banyak,
      2). Pengulangan munculnya emosi negatif akibat orang atau situasi yang sama atau berbeda
      3). Kebiasaan untuk tidak mengatasi emosi negatif secara langsung,
      4). Kebiasaan untuk mengabaikan emosi negatif dengan berusaha melupakan masa lalu

      Saya akan menjawab berdasarkan informasi singkat yang Riska telah tulis di atas. Saya asumsikan bahwa Riska:
      1). Seorang wanita,
      2). Telah berusia di atas 18 tahun & belum menikah,
      3). Mempunyai hati yang terluka akibat perkataan atau tindakan seorang pria,
      4). Pernah menjalin hubungan secara emosional dengan pria tersebut dan
      5). Kedua orang tua masih hidup.

      Sebelum sakit hati atau mati rasa itu muncul, Riska bisa bayangkan, waktu itu, perasaan positif apa yang timbul akibat pria tersebut. Mungkin satu atau beberapa dari perasaan berikut:
      – merasa di hargai,
      – merasa di dengarkan,
      – merasa di mengerti,
      – merasa di sayang,
      – dan lain sebagainya

      Ketika merasakan semuanya itu, seakan-akan tidak ada yang bisa membuat Riska merasa berat dalam hidup. Apapun kehidupan yang dijalani, seakan-akan mudah semua menjalani-nya, karena semua perasaan positif yang di rasakan tersebut. Seakan-akan kekosongan yang terasa di dalam hati telah terisi.

      Tapi kemudian, karena satu & lain hal, pria tersebut mengatakan atau melakukan sesuatu, yang membuat Riska takut, bahwa perasaan di hargai, di dengarkan, di mengerti, di sayang dan lain sebagainya tadi seakan-akan sebentar lagi hilang. Seakan-akan kekosongan hati Riska, yang tadinya sudah terisi dengan perkataan & perilaku pria tersebut, akan kembali kosong.

      Dalam kekalutan ini, sangat mudah untuk mengatakan bahwa sakit hati atau mati rasa-nya disebabkan oleh pria tersebut. Tapi kalau ingin digali lebih dalam, mati rasa-nya sebenarnya di akibatkan oleh rasa takut akan kekosongan dalam hati, seperti dulu lagi, yang sempat terisi selama beberapa waktu.

      Dan kalau di gali lebih dalam lagi, Riska bisa mencoba untuk merasakan, kekosongan hati seperti apakah yang Riska rasakan dulu, BAHKAN SEBELUM mengenal pria tersebut? Mungkin merasa kesepian, merasa kurang diperhatikan, merasa tidak didengarkan atau perasaan-perasaan negatif lainnya?

      Dan ketika di gali lebih dalam lagi, apa yang dulu menyebabkan kekosongan hati tersebut? Siapa yang menyebabkannya?

      Mari kita alihkan perhatian sejenak. Dalam banyak kasus, saya diajarkan oleh klien-klien, peserta seminar & workshop bahwa kebanyakan kekosongan hati tersebut disebabkan oleh pengalaman masa kecil dengan orang tua.

      Tapi, orang tua kan tidak mungkin sengaja membuat hati anak-nya kosong? Betul, tidak mungkin dengan sengaja melakukannya. Tapi kalau TIDAK SENGAJA, itu sangat mungkin. Beberapa contoh di antara-nya:

      – Orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan & tidak belajar untuk bisa mempraktekkan strategi parenting dengan waktu yang terbatas, bisa membuat anaknya merasa KESEPIAN,
      – Orang tua yang sering bersama dengan anak, tapi ke hal lain, seperti memasak, mencuci baju, nonton TV, lebih memperhatikan anak yang lebih kecil, tidur, tanpa berusaha memahami perasaan anak, bisa membuat anak merasa KURANG DIPERHATIKAN,
      – Orang tua yang sering menasehati anak, tanpa berusaha untuk memahami & mendengarkan apa yang ingin di sampaikan oleh anak, bisa membuat anak merasa KURANG DIDENGARKAN,
      – Orang tua yang sering memarahi anak supaya anaknya melakukan sesuatu sesuai keinginan orang tua, tanpa berusaha untuk memahami kenapa anak tidak nurut, bisa membuat anak STRESS & MINDER,
      – Dan lain sebagainya.

      Yang mungkin membuat Riska bingung, apa hubungannya tindakan orang tua RIska dulu dengan sakit hati yang Riska rasakan gara-gara pria tersebut?

      Emosi negatif yang berulang bisa membuat intensitas emosi yang dirasakan semakin meningkat, yang pada akhirnya bisa membuat mati rasa.

      Ketika masih kecil merasa kurang di dengarkan oleh orang tua, dan sekarang merasa kurang di dengarkan oleh pria tersebut, membuat perasaan kurang di dengarkan-nya bisa semakin menumpuk.

      Perasaan kurang di sayang oleh orang tua, dan sekarang merasa kurang di sayang oleh pria tersebut, membuat perasaan kurang di sayangnya bisa semakin menumpuk.

      Perasaan kesepian karena orang tua, dan sekarang merasa kesepian karena pria tersebut, membuat perasaan kesepian-nya semakin menumpuk.

      Mungkin seperti Riska, banyak orang lain juga, perkataan atau perilaku negatif dari orang tua, yang sengaja atau tidak sengaja dilakukan di masa lampau, berusaha untuk di maklumi. Namanya juga orang tua. Dalam agama di ajarkan untuk menghormati & memaklumi orang tua.

      Tapi yang mungkin kurang disadari oleh banyak orang, tindakan menghormati & memaklumi orang tua, tidak serta merta secara otomatis mengobati luka perasaan dalam hati akibat kurang di dengarkan, kurang dihargai, kesepian dan lainnya akibat masa kecil. Secara intelektual mungkin menghormati & memaklumi, tapi perasaan dalam hati tetap teluka.

      Dan tanpa di sadari, di alam bawah sadar diri anak, ada kecenderungan untuk berusaha mengisi kekosongan atau mengobati luka hati tersebut.

      “Walaupun orang tua-ku seperti itu, nggak apa-apa. Aku tetap hormat & maklum. Yang penting, orang lain nggak boleh seperti itu sama aku.”

      Akhirnya ketika ketemu dengan orang yang sifatnya mirip dengan perilaku orang tua yang pernah melukai perasaan, timbul perasaan tidak suka, dengan atau tanpa disadari.

      Dan, ketika ketemu orang yang mendengarkan, menghargai, berusaha untuk mengerti, parasaan jatuh hati mudah untuk dirasakan. Karena kekosongan hati akhirnya terisi. Dalam benak hati, “Wah orang ini benar-benar membuat aku merasa seperti ……..” dan merasa bahagia dalam hati. Seakan-akan yang membuat suka tersebut adalah orang-nya. Padahal perasaan suka timbul karena kekosongan hati yang akhirnya terisi.

      Dan, ketika ada kemungkinan bahwa hati yang dulu kosong, sekarang akan kosong lagi, kekalutan pun timbul, seakan-akan orang tersebut yang menyebabkannya. Padahal perasaan kalut timbul akibat rasa takut jika hati akan kembali kosong.

      Diri Riska lebih berharga dari yang Riska bayangkan. Hidup di dunia ini pun hanya sebentar. Kemungkinan paling lama tinggal 100 tahun lagi. Pria tersebut, seperti apa pun dia, yang paling bisa berusaha untuk membuat diri Riska bahagia adalah diri Riska sendiri.

      Dan ketika semua sudah terlanjur terjadi, merasa takut hati kembali kosong & mati rasa, apa yang bisa Riska lakukan?

      Silahkan lakukan hal-hal berikut:
      1). Tulis semua perasaan yang berkecamuk di dalam hati, di atas kertas. Tidak usah dipikir apa yang harus di tulis. Tulis saja semuanya. Dan saat menulis, bayangkan perasaan & emosi negatif yang berkecamuk di dalam hati pindah ke atas kertas. Tidak perlu menghakimi diri sendiri, bahwa saya harusnya tidak boleh merasa seperti ini, bahwa saya harusnya begini, begitu, dan lain sebagainya. Tulis saja semuanya yang negatif, yang ada dalam pikiran & hati. Jika makan waktu lebih dari 1/2 jam, istirahat 5 menit setelah setengah jam, lalu lanjutkan kembali.

      2). Setelah sudah selesai, rasakan perasaan yang lebih ringan di dalam hati. Rasakan rasa bangga di dalam hati karena telah berhasil mengidentifikasi perasaan negatif yang ada. Bahwa sebenarnya belum mati rasa, karena kalau mati rasa berarti sudah tidak bisa merasa apa2 lagi. Tidak usah dipikirkan apa yang harus dilakukan. Keputusan-keputusan penting di ambil-nya nanti saja. Sekarang yang penting semua perasaan dan emosi negatif tumpah dulu ke atas kertas.

      3). Saat akan tidur malam, bayangkan bahwa perasaan2 yang telah di tulis tadi lepas dari diri Riska. Izinkan diri Riska untuk bisa menyayangi diri sendiri, paling tidak di dalam mimpi.

      4). Setelah bangun tidur di pagi hari, hubungi orang tua, janjian untuk ketemu (jika tinggal di rumah yang berbeda). Kemudian usahakan cari waktu untuk bisa berdua dengan orang tua. Ngobrol 4 mata, masing-masing dengan Ayah & Ibu. Setelah berbasa-basi, ucapkan hal berikut (tidak perlu dirubah, HAPALKAN SAJA):
      “Ibu, aku senang bisa ngobrol berdua dengan Ibu. Apapun yang pernah aku alami dari saat aku dalam perut Ibu dulu sampai sekarang, aku tahu Ibu sayang sama aku dan aku juga sayang sama Ibu. Seandainya ada kesalahan Ibu sama aku, aku sudah maafkan semuanya. Dan kalau di ingat2, aku juga tahu aku pernah membuat Ibu marah, kesal, sedih, bingung, nangis, dan lainnya. Aku tahu Ibu sayang sama aku dan aku juga sayang sama Ibu. Ibu mau maafin aku?”

      Lalu diam, lihat reaksi Ibu. Kemudian percakapan selanjutnya biarkan ngalir saja. Ketika Ibu bilang, “Ibu maafin kamu.” Jawab, “Kalau Ibu maafin aku, peluk aku dong Bu?” Lalu silahkan pelukan. Kemudian percakapan selanjutnya biarkan ngalir saja.

      Dan lakukan hal yang sama dengan Ayah.

      5). Kemudian di malam hari berikutnya ketika akan tidur malam, rasakan rasa bangga dengan diri sendiri karena sudah bisa maaf2an dengan Ayah/Ibu. Sambil bayangkan masa depan seperti apa yang diinginkan. Izinkan mimpi indah muncul malam itu.

      6). Setelah bangun pagi, tulis semua hal2 yang ingin dilakukan dalam hidup. Tidak usah di susun, tuangkan saja semuanya. Yang ingin dilakukan dalam hidup.

      Dan rasakan lagi rasa bangga dalam diri Riska telah lebih mampu untuk menyayangi diri sendiri & lebih mampu untuk berpikir tentang kehidupan Riska.

      Tentang pria tersebut, MAAFKAN SAJA dalam hati, apakah bertemu dengan dia atau tidak. Kehidupan Riska terlalu berharga untuk di ganggu dengan perasaan negatif atau positif terhadap seseorang yang mungkin kurang perduli dengan diri Riska.

      Dan sekarang, Riska bisa lebih menghargai & peduli dengan diri sendiri. Fokus untuk meningkatkan kemampuan diri untuk merasa lebih ringan perasaannya dan mempelajari berbagai strategi untuk menjalani kehidupan pribadi dengan lebih baik. Simpan & tunda perasaan sayang atau cinta untuk suami Riska nanti. Biarkan suami Riska nanti merasa bersyukur punya istri seperti Riska yang sudah meng-ikhlaskan masa lalu & memandang kehidupan masa kini & masa depan dengan penuh harapan, sampai akhir hidup nanti di dunia ini.

      Semoga membantu.

      Terima kasih.

      Syahriar Rizza
      Terapis Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: