Apakah Cara Mendidik Yang Memberikan Kebebasan Kepada Anak adalah Tepat?


Orang tua mendidik anak dengan cara yg nge “flow” . Artinya byk memberikan kebebasan bagi anak untuk mengatur kehidupan nya. Hasil akademis pun masih diatas rata-rata. Apakah cara mendidik tersebut sudah tepat ?

Setiap orang tua mempunyai cara mendidik yang berbeda, berdasarkan yang sudah dipelajarinya selama ini. Apakah dari pengalaman pribadi dimasa kecil, apakah dari informasi yang sudah banyak beredar di zaman modern ini, ataukah gabungan dari keduanya. Ada orang tua yang bertindak seperti dictator, bahwa anak-anak-nya harus nurut tanpa syarat, ada orang tua yang memperlakukan anak sebebas-bebasnya sampai terkesan tidak perduli dengan anak. Tapi mayoritas orang tua biasanya di tengah-tengah. Tidak dictator, tidak juga bebas 100%.

Apakah cara mendidik yang nge”flow” dengan arti banyak memberikan kebebasan bagi anak untuk mengatur kehidupan nya, apakah sudah baik atau tidak, semuanya tergantung dari definisi dari nge”flow” itu sendiri. Jika yang ditanyakan adalah cara mendidik sehubungan supaya anak dapat nilai akademis yang baik di sekolah, apapun yang dilakukan sehingga anak bisa belajar dengan tenang, tidak terpaksa, merasa disayang tanpa syarat, gembira & rela, tanpa merasa kurang disayang oleh orang tua, itu adalah cara yang terbaik. Jangan sampai ada luka dalam hati anak karena orang tua, sedangkan orang tua berdalih bahwa hukuman atau marah kepada anak karena sayang sama anak. Karena tidak sesuai dengan perasaan anak. Merasa sedih ketika dihukum tidak cocok dengan merasa disayang oleh orang tua.

Sehingga pendekatan orang tua kepada anak untuk membuat anak merasa rela belajar demi dirinya sendiri bisa berbeda-beda, tergantung dari dari situasi, kepribadian & kondisi hati anak. Untuk memudahkan orang tua mendidik anak, cara terbaik adalah membantu anak supaya bisa sepenuhnya terbuka dengan orang tua, sehingga orang tua mengetahui secara dini jika ada emosi-emosi negative dalam hati anak sehubungan dengan pelajaran, sehingga orang tua bisa langsung mengantisipasinya, tanpa membiarkan emosi negative itu terpendam. Sehingga akan tetap membuat anak merasa disayang apa adanya tanpa syarat & semakin rela dan ikhlas untuk belajar demi dirinya sendiri.

Semoga Membantu.

Syahriar Rizza
Terapis Hati

Perihal Syahriar Rizza
Terapis Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: