Bagaimana cara menghadapi 2 anak laki-laki yang berbeda karakter?


Ada 2 anak laki-laki adik-kakak yang berbeda karakter. Yang 1 apabila diperhatikan akan menjadi lebih serius (normal dan tidak ada masalah). Tapi yg satu lagi kalo diberi perhatian malah marah-marah, seolah-olah tidak ingin diberikan perhatian lebih oleh orang tuanya. Bagaimana cara menghadapinya?

Setiap anak menginginkan perhatian dari orang tua-nya dengan cara yang berbeda. Ada yang menginginkan perhatian dalam bentuk sentuhan atau ingin lebih banyak di sentuh oleh orang tuanya. Ada yang ingin lebih banyak di ajak ngobrol dengan orang tua-nya. Ada yang ingin lebih sering dipuji. Ada yang ingin lebih banyak waktu dengan orang tua-nya. Dan lain sebagainya.

Sehingga dalam pertanyaan di atas, saya ASUMSI-kan bahwa “perhatian” yang di maksud adalah dalam bentuk “pertanyaan”. Dalam hal ini ini adalah pertanyaan yang menanyakan kabar di sekolah, dengan teman, dan lain sebagainya.

Seringkali sebagai orang tua kita merasa bahwa kalau anak kita mengalami suatu masalah, masalah tersebut tanpa kita sadari kita kotak-kotak-an. Maksudnya adalah, ketika anak di tanya kemudian jadi marah-marah, masalahnya adalah anak tidak mau ditanya. Atau mungkin kita merasa cara bertanya-nya yang salah. Padahal, sejak dalam kandungan Ibu sampai lahir sampai dengan saat ini, semua masalah anak di masa lalu yang belum terselesaikan, akan numpuk semua, dan timbul dalam bentuk perilaku yang membingungkan kita sebagai orang tua.

Misalnya si kakak waktu kecil penah ingin main sama Mama, tapi pada saat yang bersamaan Mama sedang menyusui si adik. Lalu Mama berkata, “Sebentar ya, Mama nyusuin adik dulu.” Kemudian Mama meneruskan fokus menyusui adik tanpa berusaha memberi kakak alternatif mainan yang lain. Sebagai seorang Mama adalah wajar untuk berpendapat bahwa si kakak harusnya mengerti, bahwa adik bayi perlu di susui. Tapi si kakak belum pernah ikut training Terapi Hati. Si kakak waktu itu belum mengerti bagaimana dia harus bersikap. Sehingga si kakak tanpa di sadari memendam perasaan marah ke Mama, karena merasa dipilih kasih dibandingkan adiknya. Dulu kalau mau main sama Mama bisa langsung main, sekarang harus nunggu adik di susui dulu. Ketika komunikasi antara Mama & si kakak kurang lancar, perasaan terpendam seperti yang di contohkan barusan biasanya tidak muncul ke permukaan, tapi tetap bersemayam di dalam hati si kakak. Di tambah dengan berbagai hal2 negatif lain yang terjadi dengan atau tanpa di sadari, perasaan2 negatif ini tidak hilang2, tanpa disadari oleh si kakak juga.

Dan ketika kakak sudah agak besar, mungkin si kakak sendiri juga merasa bingung, “Mama kan hanya bertanya sederhana, kenapa aku reaksi-nya seperti itu ya?” Tanpa disadari oleh si kakak, emosi negatif-nya yang terpendam membuatnya ber-perilaku tidak semestinya kepada Mama.

Kemungkinan lain yang bisa terjadi yaitu sang Ibu saat hamil si adik & si kakak, mengalami perbedaan perasaan selama kehamilan. Ketika hamil si kakak, mungkin sang Ibu merasa baru nikah sehingga perlu penyesuaian dengan suami, sehingga muncul perasaan2 sedih atau marah yang terpendam. Jabang bayi juga bisa merasakan perasaan itu & bisa terbawa setelah dia dilahirkan. Sedangkan ketika hamil anak kedua, pernikahan dirasakan bahagia, sehingga jabang bayi juga bisa merasakan kebahagian tersebut. Sehingga si kakak menjadi anak yang mudah marah, sedangkan si adik menjadi anak yang lebih ceria.

Apakah bisa merubah kepribadian dasar anak, yang merupakan bawaan dari perasaan Ibu waktu hamil? Bisa, tapi tidak semudah merubah kepribadian anak yang terbentuk setelah lahir. Karena kepribadian yang terbentuk sejak di dalam kandungan lebih “mendarah-daging.” Dan ketika memahami bahwa kondisi kepribadian dasar anak juga terbentuk sejak dalam kandungan, yang sebagian besar dipengaruhi oleh perasaan Ibu saat hamil, akan lebih mudah buat orang tua untuk memahami anak, sehingga komunikasi kepada anak bisa lebih diisi dengan saling pengertian.

Terlepas dari apakah masalah anak sejak di dalam kandungan atau tidak, terlepas dari apakah anak mudah diberi perhatian atau tidak, ketika ada masalah, salah satu cara yang paling dianjurkan untuk mengatasinya yaitu mgajak berbicara anak tersebut, tanpa kehadiran orang lain, terutama saudaranya. Jadi hanya berdua alias empat mata. Sehingga anak merasa tidak punya resiko untuk mengungkapkan isi hatinya kepada orang tua. Dan ketika berbicara empat mata ini, Mama juga bisa sambil meyakinkan anak, bahwa, apapun yang dikatakannya, Mama tidak akan marah & akan berusaha memahami.

Contoh kalimat untuk ditanyakan ke anak, “Kakak tahu kan kalau Mama sayang sama Kakak? Kakak juga tahu kalau Kakak anak yang baik? Mama kadang2 bingung kalau waktu Mama Tanya kakak sesuatu, Kakak jawabnya sambil marah2. Mama salah tanya ya? Kakak merasa Mama lebih sayang sama adik ya? Apa yang Kakak inginkan dari Mama supaya ngerasa di sayang?” Sehingga bisa lebih tahu kondisi anak. Lalu tinggal mempraktekkan teknik2 menjadi orang tua yang lebih baik.

Semoga Membantu.

Syahriar Rizza
Terapis Hati

Perihal Syahriar Rizza
Terapis Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: